GitaGracia.com
Resensi Buku

GitaGracia.com

Gita Gracia Ministry – NCBC – House of Grace

Kesatuan Umat Tuhan

unity 

KESATUAN UMAT TUHAN

EFESUS 2:11-22

Setiap orang yang telah menerima anugerah keselamatan dari Allah tidak sendirian, tetapi disatukan dengan orang percaya yang lain. Di dalam Ef. 2:11-22 Paulus mengembangkan konsep kebersamaan dalam kesatuan orang-orang yang telah diselamatkan yang terdiri dari orang Yahudi dan non-Yahudi di dalam Kristus. Mereka semua adalah anggota tubuh Kristus (band. 1:22-23). Apabila kita melihat hakekat kesatuan di dalam kitab Ef. 2:11-22 ini maka akan dapat ditemukan 3 hal yang utama. Ketiga hal itu antara lain:

  1. Dasar Kesatuan (11-13)

Dasar dari kesatuan orang percaya adalah pengorbanan darah Kristus. Melalui darah Kristus ini semua orang percaya disatukan. Sehingga karena itu tidak ada lagi orang Yahudi ataupun orang non-Yahudi. Semua orang telah disatukan di dalam tubuh Kristus. Karena itu, pada bagian ini paulus menjelaskan dua hal terkait hal itu:

  1. Orang Percaya harus selalu “ingat” bahwa dia sudah berubah (Efesus 2:11-13).  

11  Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu sebagai orang-orang bukan Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya “sunat”, yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia,  12 bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia.

Untuk melengkapi diskusi dari orang-orang percaya sebagai pekerja Allah (bnd.ay.1-10), pada bagian ini Paulus mulai dengan partikel antara yang sangat kuat yaitu “karena itu.” Ini untuk menegaskan perubahan yang terjadi pada diri jemaat di Efesus. Dari kehidupan lama ke dalam kehidupan baru; dari hidup di luar Kristus ke dalam hidup di dalam Kristus. Paulus memberi perintah untuk mengingat zaman dahulu ketika masih belum percaya, yang disebut sebagai orang yang tidak bersunat, atau non-Yahudi. Memang ada perbedaan nyata secara fisik antara orang Yahudi dan bukan Yahudi. Orang Yahudi adalah orang bersunat, dan non-Yahudi tidak bersunat. Ini juga menyatakan adanya perbedaan secara spiritual dan fisik. Keadaan ketika belum percaya merupakan keadaan yang kacau dan tanpa harapan. (11)

 

Di dalam bagian ini Paulus menjelaskan tentang natur jemaat di Efesus. Kata pertama di bagian ini adalah kata perintah “oleh karena itu ingatlah,.. (Ef.2:11). Ungkapan ini juga dapat dikatakan “kamu harus selalu ingat, jika membandingkan antara keberadaan sekarang dan yang lampau. Kondisi ini seharusnya menghadirkan rasa syukur dan kerendahan hati. Dalam perbandingan, kita dapat melihat antara kehidupan sebelum mengenal Kristus dan sesudahnya. Orang-orang non-Yahudi secara daging adalah orang-orang yang tidak bersunat. Mereka adalah orang yang tidak mengenal pengharapan di dalam Mesias.

2:12, orang-orang non-Yahudi secara eksternal tidak memiliki tanda sebagaimana orang Yahudi, yaitu tanda sunat, mereka juga tidak memiliki hak istimewa di hadapan Tuhan sebagaimana orang Yahudi. Orang Yahudi memiliki pengaharapan Mesianik, dan sementara orang non-Yahudi berada jauh di luar itu.

Pertama; mereka berada jauh di luar Kristus, bukan hanya secara personal tetapi juga secara nasional mereka tidak memiliki pengharapan Mesianik.

Kedua, mereka tidak menjadi bagian dari kewarganegaraan di Israel. Mereka tidak memiliki sistem pemerintahan teokrasi (Rom.9:4)

Ketiga, mereka adalah orang asing di dalam Perjanjian dan janji (Ef.3:6). Mereka berada di luar perjanjian Allah sehingga mereka tidak memiliki pengharapan tentang kemuliaan dan berkat di masa mendatang sebagaimana Israel. Perjanjian Israel termasuk di dalamnya adalah perjanjian Abraham (Kej.12:1-3; 15:18-21; 17:1-8), Palestina (Ul.28-30), Daud (2 Sam.7:16; Maz.89:1-4), dan Baru (Yer. 31:31-34; Yeh. 36:24-30).

Keempat, mereka orang Kafir tanpa harapan. Tidak seperti Israel, mereka tidak mempunyai pengharapan pribadi terhapa Misias-Pembebas dan Mesias.

Kelima, mereka tanpa Allah (terpisah dari Allah) di dalam dunia. Mereka orang kafir yang tidak memiliki arti, harapan, tujuan atau arah hidup.

 

  1. Orang Percaya harus ingat bahwa mereka adalah orang-orang yang telah diselamatkan (13)

13 Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu “jauh”, sudah menjadi “dekat” oleh darah Kristus.

2:13, tetapi sekarang di dalam Kristus kehidupan mereka sangat berbeda dengan kehidupan lama (ay.11), ini sangat berbeda dengan keadaan sekarang. Dan secara posisi terpisah dari Kristus (12) sebagai bentuk bertentangan dengan Kristus. Orang-orang kafir yang dahulu jauh (ay.17) baik dari Allah maupun orang Yahuid (12) sekarang menjadi dekat melalui darah Kristus (band. 1:7). Mereka menjadi dekat kepada Allah dan juga kepada orang Yahudi melalui pengorbanan darah Kristus. Mereka sekarang memiliki anugerah keselamatan di dalam Kristus.

Lebih lanjut Paulus memberi gambaran kebahagiaan terkait tentang perubahan yang terjadi di dalam dirinya, “ tetapi sekarang, di dalam Kristus, kamu yang dahulu jauh menjadi dekat.” Mereka yang dahulu jauh dari Kristus, dari gereja, dari janji, dari pengharapan Kristus bahkan dari Allah sekarang menjadi dekat. Ketika seseorang dekat dengan Allah berarti dia juga dekat dengan segala campur tangan Tuhan, dan mereka merupakan bagian dari orang-orang yang diselamatkan.

  1. Tujuan Kesatuan (Ef. 14-17).

Paulus sekarang memberi gambaran bagaimana dan mengapa permusuhan ini dipatahkan atau diakhiri. Perseteruan antara orang Yahudi dan non-Yahudi ini berakhir karena kematian Kristus (di dalam daging-Nya ini menunjuk secara fisik pada kematian Kristus; ban. Kol.1:22). Antara orang Yahudi dan non-Yahudi ini dahulu bermusuhan karena saling mempertahankan hukumnya masing-masing. Orang Yahudi menjadikan dirinya lebih baik dari yang lain karena memiliki hukum dan regulasinya (band. Kol.2:14, 21-23), dan orang non-Yahudi tidak berada di dalamnya. Perbedaan ini menempatkan mereka pada posisi yang saling terpisah. Sekarang Kristus menghancurkan pemisahan itu dan menyatukan mereka menjadi satu di dalam kasih karunia. Kristus memiliki dua tujuan dalam mengakiri perseteruan itu:

  1. Untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya (14-15)

14 Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan,  15 sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera,

Kristus telah menyatukan keduanya dengan mematahkan tembok pemisah, yaitu perseteruan. Kata “damai” disebutkan sebanyak 4 kali pada bagian ini (14-15, dan 2 kali di dalam ayat 17). Ada beberapa inteprestasi terkait dengan perkataan mematahkan tembok pemisah. Beberapa sarjana menyatakan bahwa hal ini menunjuk pada penghancuran tembok pemisah di dalam bait Allah, antara ruang maha kudus dan ruang kudu. Sebagian lain menyatakan bahwa hal ini terkait dengan penghancuran tembok Yerusalem. Dengan dihancurkannya tembok Yerusalem berarti ada penyatuan antara orang Yahudi dan non-Yahudi. Tetapi apabila diperhatikan secara konteks, maka hal ini tidak menunjuk secara fisik namun secara rohani. Terjadinya penyatuan rohani antara orang Yahudi dan non-Yahudi. Sejak Kristus menghancurkan tembok pemisah ini, antara orang Yahudi dan non-Yahudi dipersatukan (ay.16).

Pertama untuk menciptakan keduanya menjadi suatu ciptaan baru. Kata baru “kainon” berarti baru atau segar di dalam karakter atau kualitas daripada baru di dalam waktu “neos.” Manusia baru (Ef.2:15), atau “kemanusiaan baru” juga disebut sebagai “satu tubuh,” yaitu adalah gereja. Di dalam gereja orang bukan Yahudi tidak menjadi orang Yahudi, dan orang Yahudi tidak menjadi orang bukan Yahudi, namun keduanya menjadi satu. Baik orang Yahudi maupun non-Yahudi sama-sama menjadi orang Kristen.

  1. Untuk memperdamaikan keduanya menjadi satu tubuh (16-17)

16 dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu.  17 Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang “jauh” dan damai sejahtera kepada mereka yang “dekat”,

Tujuan kedua di dalam penghacuran permusuhan ini adalah untuk merekonsiliasi keduanya; baik Yahudi maupun non-Yahudi di dalam satu tubuh (band. 3:6). Rekonsiliasi ini dipenuhkan melalui salib, yang juga merekonsiliasi antara Allah dan manusia. Dia mati untuk menghancurkan perseteruan antara Yahudi dan non-Yahudi. Di dalam 2:14 rekonsiliasi antara orang Yahudi dan non-Yahudi, dan di dalam ayat 16 rekonsiliasi antara manusia dan Allah (band. Rom. 5:10; 2 Kor.5:18-2-; Kol.1:20).

Ayat 17 ini dimulai dengan kata “dan.” Kata penghubung ini menghubungkan antara ayat 17 dengan 14. Bukan hanya Kristus itu adalah “damai kita (14),” tetapi Dia juga juru damai. Kapan Kristus melakukan hal ini? tentu saja ini dihubungkan dengan kotbah tentang damai melalui para Rasul kepada orang-orang Yahudi (Mat. 10:5-6; 15:24-27). Juga damai yang dikotbahkan atas dasar kematian Kristus. damai ini yang mendukung keduanya; kepada mereka yang jauh (Ef.2:13), orang-orang non-Yahudi yang tidak memiliki pengharapan Mesianik, atau tanpa Kristus dan terpisah dari Israel dan perjanjiannya, dan kepada mereka yang dekat, atau orang Yahudi yang memiliki perjanjian dan janji (ay.12).

Sebagai hasil dari damai antara oranya Yahudi dan non-Yahudi ini orang percaya memiliki akses kepada Allah Bapa melalui Roh Kudus (band. 1 Kor.12:13). Akses ini diberikan melalui Kristus. Dalam bahasa Yunani kata akses ini “prosagogen, mendekat,” ini digunakan di dalam PB hanya di dalam Rom.5:2 dan Ef.3.12, dan melalui ini karya Allah Tritunggal terlihat. Di sini orang percaya memiliki akses kepada Allah Bapa melalui Roh Kudus karena kematian Kristus di kayu salib.

Di dalam 2:14-18 ini Paulus menekankan bahwa dua “Yahudi dan non-Yahudi” dijadikan satu:

  • Dua “the two-ta amphotera” dibuat menjadi satu (14).
  • Menjadi “satu manusia baru” diciptakan keluar dari keduanya “out of the two” (15).
  • Di dalam satu tubuh “tous amphoterous” keduanya diperdamaikan (16)
  • Keduanya “hoi amphoteroi” memiliki akses ke pada Bapa melalui Roh Kudus (18).

Ini merupakan satu fakta bahwa keduanya telah disatukan dan meninggalkan perseteruan. Kesatuan ini tidak meniadakan karakteristik dari masing-masing personil yang disatukan. Karakteristik dari masing-masing yang disatukan masih ada, tetapi itu tidak menjadi penghalang persatuan lagi, sebab mereka telah disatukan di dalam Kristus, dan oleh darah-Nya.

 

  • Hasil Kesatuan (Ef.18-22).

Paulus menggambarkan gereja itu sebagai sebuah bangunan besar, bait kudus dan di dalamnya Allah berkenan tinggal.  Gambaran Allah tinggal di dalam sebuah tempat ibadah ini datang dari Perjanjian Lama. Paulus menulis tentang fondasi bangunan (20), formasi (21) dan fungsi (22).

  1. Menjadi kawan sewarga (18-20).

18 karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa.  19 Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah,  20 yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.

Di sini ada fakta tentang hubungan baru (19). Orang percaya non-Yahudi tidak berada jauh lagi (12). Mereka menjadi kawan sewarga dengan umat Allah. Mereka menjadi satu bagian dari orang-orang yang ditebus mulai dengan Adam. Ini tidak berarti bahwa gereja mewarisi berkat janji Israel. Ada tiga pendapat untuk hal ini:

  • Dalam kontek Paulus berbicara tentang “satu ciptaan baru,(15), satu tubuh (16). Ini tidak berarti bahwa orang non-Yahudi dijadikan warga Israel, tetapi ini menyatakan baik orang pecaya Yahudi dan non-Yahudi dijadikan satu sebagai “ciptaan baru.”
  • Paulus secara khusus menyatakan bahwa orang-orang non-Yahudi yang percaya dijadikan satu dengan umat Allah yang lain sehingga bersama ada di dalam “keluarga Allah.”
  • Paulus menyatakan bahwa ini adalah hubungan baru, dibangun di atas dasar para rasul, nabi dengan Kristus sebagai batu penjuru (20). Ini dimulai pada hari Pentakosta, bukan di dalam PL. Orang non-Yahudi yang percaya menjadi bagian dari para tebusan sepanjang masa (19).

Pertama adalah fondasi bangunan (20). Ini berarti seluruh orang percaya adalah menjadi kewargaan Allah (19), yang dibangun di atas fondasi para rasul dan nabi. Nabi ini merupakan nabi di era PB bukan di PL. Nabi diikuti kata rasul di sini dan di dalam 3:5 serta 4:11. Mereka adalah orang-orang yang telah menerima penyataan dari misteri gereja di masa sekarang, yang tersembunyi di waktu lampau, yaitu di waktu PL (3:5). Kata “rasul dan nabi” dapat diterangkan sebagai “fondasi.” Ini dapat berarti: a. bahwa fondasi itu telah dibangun oleh mereka, atau b. fondasi itu berasal dari mereka, c. Mereka sendiri adalah suatu  fondasi, dan terakhir d. mereka  adalah fondasi itu.  kata ini dapat diterjemahkan, “fondasi yang terdiri dari rasul dan nabi.” Ini barangkali merupakan yang terbaik apabila kita melihat di dalam Ef.4:1, yang menyatakan bawha rasul dan nabi itu merupakan karunia yang diberikan kepada gereja sebagai fondasi itu.” Lebih jauh, inilah yang paling cocok dengan konteks sekarang, dimana Kristus sendiri berdiri sebagai batu penjuru. Dia adalah bagian dari fondasi itu. Di dalam masa lampau/kuno suatu bangunan selalu memiliki “batu penjuru” yang nanti akan menjadi penentu dari seluruh bangunan. Ini merupakan hal yang sangat penting karena nanti akan diikuti dengan susunan bangunan berikutnya. Fondasi gereja adalah para rasul dan nabi, dan yang selalu terhubung dengan Kristus. Semua orang percaya akan dibangun di atas fondasi itu, ukuran kehidupannya disimetriskan dengan Kristus.

  1. Menjadi bait Allah yang kudus  (21).

21 Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan.

Formasi bangunan (21). Di dalam Kristus seluruh bangunan disatukan bersama-sama. Di dalam ASV diterjemahkan “setiap atau masing-masing dari beberapa bangunan,” (ini lebih dari sekedar seluruh bangunan. Ini juga dapat dipahami bahwa setiap bagian di dalam bangunan itu menjadi satu dalam keseluruhan bangunan secara utuh. Setiap bagian disatukan bersama-sama. Kata disatukan bersama ini adalah “synarmologoumene” dan digunakan hanya di dalam Ef.4:16. Itu berarti keseluruhan bagian yang beraneka bentuk disatukan secara harmonis satu dengan yang lainnya. Susunan ini kemudian menjadi Bait Kudus Allah. Ini memberi indikasi bahwa gereja adalah sebuah kehidupan dan organisasi yang bertumbuh, sebagaimana seluruh orang percaya ada di dalam susunan bangunan itu (band. 4:15-16; 1 Pet.2:5). Baik orang Yahudi dan orang non-Yahudi bersama-sama “bersatu-bersama,” ke dalam satu organisasi yang diberi naia “suatu bait yang kudus” (band. Suatu ciptaan baru, 2:15, dan satu tubuh, 16).  Kata bait adalah naos yang selalu merujuk secara fisik kepada Bait Allah di Yerusalem, bukan pada bangunan-bangunan lain di area Bait Allah yang berada di ruang terbuka (hieron).

  1. Menjadi tempat kediaman Allah (22).

22 Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.

Fungsi (22). Pada bagian ini Paulus membicarakan fungsi dari bangunan. Allah menempatkan setiap pribadi orang percaya ke dalam satu susunan yang menyatu secara bersama dengan yang lain. Tujuan dari bangunan ini adalah untuk menjadi tempat dimana  Allah diam di dalamnya melalui Roh Kudus-Nya. Di dalam PL kemuliaan Allah terlihat di dalam Bait Allah, yang merepresentasikan kehadiran-Nya di antara umat-Nya. Sekarang, di waktu ini, Allah tinggal di dalam tempat-Nya yang baru, tempat yang tidak terdiri dari material mati, batu dan kayu, tetapi tinggal di dalam hati dan hidup orang percaya. Allah Roh Kudus diam di dalam setiap orang percaya (band. Yoh. 14:17; Rom. 5:5; 8:9,11; 1 Kor.2:12; Gal.3:2; 4:6; 1 Yoh. 3:24; 4:13), yang kemudian menjadi “Bait Roh Kudus (1 Kor.6:19). Tetapi bait di dalam Ef. 2:21-22 ini mengacu pada pendiaman Roh Kudus atas hidup orang percaya. Bait Allah itu terdiri dari orang Yahudi dan non-Yahudi.  Bangunan baru ini disusun di atas para rasul dan nabi, yang terpusat pada Batu Penjuru, dan di dalamnya Allah berkenan diam.

Pembahasan di atas apabila diringkas hanya memiliki tiga hal mendasar terkait dengan kesatuan di antaraa umat Tuhan. Ini adalah kesatuan dari tubuh Kristus. Pertama berkenaan dengan dasar kesatuan.  Dasar dari kesatuan orang percaya adalah pengorbanan darah Kristus. Melalui darah Kristus ini semua orang percaya disatukan. Sehingga karena itu tidak ada lagi orang Yahudi ataupun orang non-Yahudi. Semua orang telah disatukan di dalam tubuh Kristus. Kedua berbicara tentang  tujuan dari kesatuan. Umat Tuhan oleh darah Kristus dipersatukan. Keduanya, baik Yahudi maupun non-Yahudi disatukan, dan  keduanya menjadi manusia baru di dalam Kristus. Mereka yang pada awalnya berseteru, sekarang diperdamaikan, dan menjadi satu tubuh. Tidak ada lagi orang Yahudi, tidak ada lagi orang non-Yahudi, yang ada sekarang adalah orang Kristen. Ketiga berkaitan dengan hasil kesatuan. Kesatuan itu membuat mereka menjadi kawan sewarga, Bait Allah yang kudus, dan tempat kediaman Allah. Inilah kemuliaan yang ajaib bagi orang percaya. Orang percaya tidak lain adalah tempat kediaman Allah. AMIN, TUHAN YESUS MEMBERKATI.

Dr. Susanto Dwiraharjo, M.Th.

© 2016, admin. All rights reserved.

comment closed